Mengenal Waste Yang Ketiga, Transportation

Dalam seri tulisan ”The Seven Waste” yang keempat ini, kita akan berfokus untuk membahas waste yang ketiga, yaitu transportasi (transportation).

Yang dimaksud dengan transportasi yang efisien dalam Lean Manufacturing adalah transportasi suatu barang seharusnya dilaksanakan atau didatangkan langsung menuju tempat di mana barang tersebut dapat langsung digunakan sehingga tidak menimbulkan pemborosan lainnya yaitu transportasi yang tidak perlu.

Sebagai ilustrasi ialah bahwa sebuah bahan mentah yang hendak digunakan di dalam produksi seharusnya tidak perlu untuk melalui berbagai macam tempat yang tidak diperlukan seperti ke tempat penerimaan, gudang sortir, gudang stok, lantai produksi hingga sampai di divisi Assembly di mana bahan mentah tersebut akan digunakan karena semakin banyak tempat yang harus dilalui sebuah barang untuk mencapai tujuannya (point of use) maka semakin besar pula pemborosan yang dilakukan, kecuali jika memang diperlukan adanya inspeksi. Istilah Lean Manufacturing untuk teknik ini ialah Point Of Use Storage (POUS).

Pemborosan transportasi biasanya disebabkan oleh kesalahan dalam perencanaan tata letak peralatan dan mesin pada stasiun kerja. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengatasi pemborosan transportasi pada tipe perusahaan flow shop adalah dengan menyusun layout mesin dan peralatan yang efisien sesuai dengan penggunaan dan alur produksinya. Wastejenis ini terjadi karena tata letak (layout) produksi yang buruk, pengorganisasian tempat kerja yang kurang baik sehingga memerlukan kegiatan pemindahan barang dari satu tempat ke tempat lainnya. Contohnya Letak Gudang yang jauh dari proses akhir (produk jadi), serta jauh dari akses pengangkutan produk.

Gambar 1. Transportasi yang tidak perlu

Dari gambar 1. di atas, terlihat seorang pekerja mengangkut produk jadinya ke gudang penyimpanan yang terletak cukup jauh dari proses akhir produk. Gudang seharusnya terletak di tempat yang mudah diakses dan dekat dengan fasilitas pengangkutan. Dalam kasus di atas, maka perlu dilakukan penataan ulang terhadap layout pabrik, sehingga lokasi gudang tidak berjauhan dengan proses akhir produk, dan berdekatan dengan proses selanjutnya yaitu distribusi/pemasaran, sehingga tidak perlu transportasi lagi untuk mengangkut produk dari gudang ke mobil/alat pengangkut.

Sebagai gambaran, berikut ditampilkan contoh layout yang ada di sebuah perusahaan manufaktur logam.

Gambar 2. Layout sebelum perubahan

Pada gambar 2. di atas, dapat kita lihat betapa jauh letak kedua gudang (raw material dan finished good) sehingga tentu akan sangat menyulitkan serta membuang waktu, tenaga dan biaya ketika terjadi aktivitas bongkar muat barang.

Gambar 3. Layout usulan perubahan

Dalam usulan layout pada gambar 3., kedua gudang dipindah posisi ke depan, mendekat dengan jalan, sehingga akan sangat memudahkan ketika terjadi aktivitas bongkar muat barang, serta tidak mengganggu aktivitas pekerja lain. Meskipun membutuhkan waktu, tenaga dan biaya, namun perpindahan ini ke depannya akan mengurangi berbagai pemborosan yang terjadi.

 

 

DAFTAR REFERENSI

 

Abdullah, Fawaz, Lean Manufacturing Tools and Techniques In The Process Industry With the Focus on Steel, Dissertation, University of Pittsburgh, 2003.

 

Akinlawon, Akin, Thingking Of Lean Manufacturing System.

 

Becker, Ronald, Lean Manufacturing And The Toyota Production System.

 

Fanani, Zaenal,dkk., Implementasi lean manufacturing untuk peningkatan produktivitas (studi kasus pada pt. ekamas fortuna malang), Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi XIII, Program Studi MMT-ITS, Surabaya, 5 pebruari 2011.

 

Fitriyah, Ni’matul., Peningkatan mutu produk kain grei pada departemen weaving iii PT. Dan liris Sukoharjo dengan menggunakan pendekatanLean six sigma, Skripsi, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2012.

 

Jahja, Kristianto, 5R, Productivity & Quality Management Consultants, Jakarta Pusat, 1995.

 

Jeffrey K. Liker, The Toyota Way: 14 Management Principles from theWorld's Greatest Manufacturer, McGraw-Hill © 2004.

 

Monden, Yasuhiro, Sistem Produksi Toyota, Seri Manajemen Operasi No.8, Edisi Indonesia , Cetakan pertama, PPM, Jakarta, 1995.

Share:

Postingan Terkait:

Mengenal Waste Yang Ketujuh, Defect

Dalam seri tulisan ” The Seven Waste ” yang kedelapan ini, kita akan berfokus untuk membahas waste yang ketujuh, yaitu Cacat Produksi ( defect ). Defect dimaknai sebagai produk yang…

Mengenal Waste Yang Keenam, Excess Motion

Dalam seri tulisan ” The Seven Waste ” yang ketujuh ini, kita akan berfokus untuk membahas waste yang keenam, yaitu Gerakan berlebih/tidak diperlukan ( Excess motion ). Yang dimaksud dengan…

Mengawinkan Budaya dan Teknologi dalam Industri Kreatif

Di Indonesia, bergulirnya ekonomi kreatif menjadi model baru dalam pengelolaan ekonomi baru dimulai pada tahun 1990-an. Aktivitas ekonomi kreatif ditandai dengan serangkaian kegiatan produksi dan distribusi barang/jasa yang berkembang melalui…

Mengenal Waste Yang Kelima, Excess Inventory

Dalam seri tulisan ” The Seven Waste ” yang keenam ini, kita akan berfokus untuk membahas waste yang kelima, yaitu persediaan berlebih ( excess inventory ). Pemborosan jenis ini hampir…

Kirim Komentar

Setiap komentar akan ditinjau dahulu.