kemenperin

Implementasi Hypnosis Teaching Pada Pendidikan dan Pelatihan

Implementasi Hypnosis Teaching Pada Pendidikan dan Pelatihan

Implementasi Hypnosis Teaching Pada Pendidikan dan Pelatihan

Oleh: Kunto Purwo Widagdo (Widyaiswara BDI Yogyakarta)

 

A. PENDAHULUAN

        Dalam sebuah proses pembelajaran, pengajar memberikan materi pembelajaran kepada peserta didik agar bisa dipahami dan dimengerti oleh peserta didik tersebut. Tujuan  pembelajaran itu sendiri adalah  seseorang yang belajar mampu mengetahui dan memahami maksud dari data, informasi, dan pengetahuan yang mereka peroleh dari sumber yang dapat dipercaya. Namun, seringkali, seorang peserta didik dianggap sebagai obyek pembelajaran, bukan sebagai subyek pembelajaran. Hal itu terjadi karena dominasi dalam proses belajar-mengajar sering dikendalikan secara penuh oleh seorang pengajarnya.

        Hipnosis merupakan kondisi ketika seseorang mudah menerima saran, informasi, dan sugesti tertentu yang mampu mengubah seseorang dari hal yang kurang baik menjadi hal yang lebih baik. Hipnosis merupakan teknik yang memudahkan untuk memotivasi seseorang secara cepat dan efisien. Dalam kondisi hypnosis, ada sebuah kondisi pada saat seseorang mudah menyerap informasi secara cepat, tanpa adanya tekanan , ego, dan kecemasan. Kondisi yang dimaksud adalah kondisi “hypnosis”. Semakin masuk ke dalam kondisi hypnosis semakin orang itu masuk ke kondisi sugestif. Itulah kondisi ketika seseorang mudah menerima saran, masukan, informasi, data bahkan pengetahuan tertentu. Dengan demikian, secara otomatis, seseorang bisa mengoptimalkan daya serap, daya ingat, dan daya pikirnya.

B. PENERAPAN HYPNOSIS TEACHING

        Peserta diklat tidak jauh berbeda dengan peserta didik di sekolah atau mahasiswa di perguruan tinggi. Persamaannya keduanya sama-sama belajar di ruang kelas dengan diajar atau difasilitasi oleh seorang guru/dosen/widyaiswara. Perbedaannya peserta didik atau mahasiswa berstatus belum bekerja secara formal sedangkan peserta diklat adalah mereka yang sudah berstatus pegawai negeri alias bekerja; disamping itu pegawai negeri umumnya sudah berumur bahkan sudah ada yang berusia  tua. Metode pembelajaran yang digunakan di sekolah adalahpaedagogi atau mungkin juga pada perguruan tinggi. Sedangkan metode pembelajaran di diklat digunakan  andragogi (pembelajaran orang dewasa). Lantas apa hubungan penerapan hypnonis teaching pada sekolah/perguruan tinggi dan diklat? Hypnonis teaching bisa digunakan di kedua tempat itu, meskipun pesertanya berbeda dari segi umur. Karena status keduanya adalah sama-sama belajar di ruang kelas maka metode hypnonis teaching bisa diterapkan di kedua tempat itu.   

        Dalam konteks diklat, seorang widyaiswara pada saat memasuki ruang kelas biasanya mendapat perhatian penuh dari para peserta diklat. Semua mata tertuju padanya dengan penuh harap apa gerangan  yang akan disampaikan oleh widyaiswara tersebut. Pada pandangan pertama itulah yang akan menentukan keberhasilan mengajar untuk waktu-waktu berikutnya. Karena itu kesan pertama harus ditunjukkan oleh seorang widyaiswara bagaimana menarik perhatian peserta diklat. Dari sisi pisik seorang widyaiswara harus berpenampilan rapih dan menarik. Pakaian bersih, kombinasi warna celana dengan baju serasi, berdasi, kalau perlu memakai jas, sepatu disesuaikan dengan warna celana. Suara diatur intonasinya, tidak terburu-buru, dan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, kurangi humor-humor yang tidak ada manfaatnya. Dalam pembelajaran orang dewasa seorang widyaiswara berdiri di tengah dengan pandangan ke depan menatap mata seluruh peserta. Dari persiapan pisik yang tidak kalah penting adalah persiapan materi ajar, mulai dari membuat GBPP dan SAP, bahan ajar, power point (jika ada), alat bantu lainnya. Agar pengajar bertambah percaya diri (self confidence) maka penguasaan materi sangat penting. Jika menggunakan power point usahakan sebentar saja melihat layar LCD, selebihnya menatap ke arah peserta. Jika berjalan ke depan mendekati peserta, maka untuk balik ke depan hendaknya berjalan mundur.

         Persiapan fisik sebaik apapun jika penguasaan materi tidak menjadi perhatian utama maka hasilnyapun tidak optimal. Sebaliknya penguasaan materi yang baik, meskipun peralatan mengajar seadanya  dengan bantuan property yang ada disekitarnya, dan tentu saja menggunakan metode mengajar yang baik, widyaiswara dapat menampilkan hasil terbaiknya. Widyaiswara tidak terpaku pada satu metode. Begitu suasana kelas berubah secara drastis, maka widyaiswara segera bermanufer mengubah metode lainnya yang dikuasai. Dalam arti metode bisa berubah setiap saat sesuai dengan kondisi peserta diklat. Beikut ini beberapa tips mengajar di kelas diklat:

  1. Menyapa peserta. Setelah mengucapkan salam, lanjutkan dengan ucapan “Selamat Pagi” meskipun wakunya sudah siang atau sore. Hal ini untuk mencari perhatian bahwa waktu boleh siang atau sore hari, tetapi semangat selalu masih pagi. Karena waktu pagi adalah waktu yang baik untuk belajar. Lanjutkan lagi dengan kata: apa kabar? Dijawab peserta: baik! Maka segera koreksilah dengan mengatakan: kata “baik” adalah biasa. Peserta: yang tidak biasa apa Pak? Maka dijawab Widyaiswara: yang tidak biasa adalah: “Luarrr Biasa!” Sekali lagi : apa kabar? Dijawab peserta : Luaarr Biasa. Lanjutkan lagi dengan berkata: untuk apa datang kesini? Dijawab peserta: untuk mencari ilmu? “mencari ilmu” itu sudah biasa, kata widyaiswara. Peserta bertanya yang tidak biasa itu apa Pak?  Dijawab widyaiswara: Untuk “Bersenang-senang”. Maksudnya adalah supaya terkesan datang ke kelas tidak perlu serius sehingga menimbulkan stress. Jika dijawab untuk bersenang-senang semua materi ujian dapat dicerna dengan mudah. Ada satu hal lagi yang harus disepakati, kalau widyaiswara mengatakan “setuju”, dijawab peserta: “sepakat”. Kalau widyaiswara berkata: “sepakat” dijawab peserta: “setuju”. Hal ini untuk membangun konsentrasi peserta agar selalu menghidupkan otak kiri dan otak kanan.
  2. Pembagian Kelompok dalam Kelas. Satu kelas yang terdiri dari 30 orang dibagi menjadi 3 kelompok masing-masing 10 orang. Setiap kelompok dibentuk ketua kelas, sekretaris, presenter, dan sisanya sebagai anggota. Setiap kelompok diberi nama sesuai dengan kesepakatan seluruh anggota, misalnya kelompok A, B, atau C. atau nama-nama binatang, nama-nama alam, atau nama-nama tokoh.
  3. Memberikan reward. Pada saat widyaiswara menjelaskan materi ajar, di tengah-tengah uraiannya dipersilahkan untuk menanyakan atau mendiskusikan jika ada hal-hal yang menurut peserta perlu ditanyakan. Bila ada yang menanyakan, sebaiknya widyaiswara jangan langsung menjawab, coba melempar kepada peserta lain siapa yang mau menjawab pertanyaan tadi?. Mungkin ada diantara peserta yang ingin menjawab?, dan bahkan ada peserta lain yang ingin menambahkan?, maka dipersilahkan!. Bagi yang bertanya diberi satu bintang, dan yang menjawab diberi satu bintang yang ditulis di papan tulis (white board). Begitu seterusnya setiap yang bertanya, menjawab, menyanggah, berkomentar diberikan masing-masing satu bintang. Di akhir sessi jumlah bintang dijumlah, yang paling banyak jumlahnya dinyatakan secara berurutan sebagai juara I, II, dan III. Dengan diberikan reward seperti itu, suasana kelas menjadi hidup dan dinamis.
  4. Game-game selingan. Pada saat suasana kelas mulai lesu, peserta kurang bergairah dan mungkin mengantuk, widyaiswara menghidupkan kelas dengan memainkan game-game ringan.
  5. Musik. Untuk menambah suasana kelas tidak monoton, ada baiknya diselingi dengan alunan musik. Musik bisa menstimulus otak yang sudah mulai jenuh. Karena tidak seorangpun yang tidak menyukai music atau lagu. Jika tidak tersedia, widyaiswara meminta seorang peserta untuk memimpin lagu-lagu yang membangkitkan semangat dan persatuan, misalnya lagu: Halo-halo Bandung, Dari Sabang sampai Merauke, dll.

        Dengan langkah-langkah di atas maka usaha membawa keberhasilan dalam proses pembelajaran akan mencapai hasil yang memuaskan. Peserta merasa puas, widyaiswara merasa bahagia karena keberhasilan itu pada hekikatnya adalah usaha bersama. 

C. PENUTUP                                               

            Hypnonis teaching sebagai sebuah metode menstranformasikan ilmu kepada peserta diklat dengan memanfaatkan alam bawah sadar, sangat cocok untuk pembelajaran orang dewasa. Peserta diklat yang rata-rata berumur di atas 40 tahun yang daya ingatannya sudah mulai menurun, jika disampaikan materi ajar secara serius dan menegangkan, maka daya tangkapnya kurang maksimal.  Hipnosis merupakan teknik yang memudahkan untuk memotivasi seseorang secara cepat dan efisien. Dalam kondisi hypnosis, ada sebuah kondisi pada saat seseorang mudah menyerap informasi secara cepat, tanpa adanya tekanan , ego, dan kecemasan. Semakin masuk ke dalam kondisi hypnosis semakin orang itu masuk ke kondisi sugestif. Itulah kondisi ketika seseorang mudah menerima saran, masukan, informasi, data bahkan pengetahuan tertentu. Dengan demikian, secara otomatis, seseorang bisa mengoptimalkan daya serap, daya ingat, dan daya pikirnya sehingga usaha memaksimalkan proses pembelajaran akan tercapai.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Andri Hakim, Hypnosis in Teaching, Cara Dahsyat Mendidik & Mengajar, Visi Media, Jakarta, 2011

Agus Nggermanto, Quantum Quotient, Cara Praktis Melejitkan IQ, EQ, dan  SQ yang Harmonis, Penerbit Nuansa, 2001.

Bakharuddin, www.bakharuddin.net/2012

 

Label

Diklat

Fasilitas komentar tidak disertakan.

Zona Integritas

Zona Integritas BDI Yogyakarta
© 2021 BDI Yogyakarta Kementerian Perindustrian