Mengenal Waste Yang Kedua, Waiting Time

Dalam seri tulisan ”The Seven Waste” yang ketiga ini, kita akan berfokus untuk membahas waste yang kedua, yaitu waktu menunggu (waiting time).

Yang dimaksud dengan waktu menunggu ialah menunggu datangnya material, menunggu informasi, peralatan, perlengkapan, dan semua proses yang dapat berakibat organisasi berhenti beraktivitas sehingga menimbulkan pemborosan. Menunggu di sini juga berarti para pekerja hanya mengamati mesin yang sedang berjalan. Sistem Lean mengharuskan sumber daya tersebut agar diperoleh dalam waktu yang tepat, dalam artian tidak terlalu cepat dan juga tidak terlalu lambat.

Waiting time dapat diartikan sebagai waktu tunggu bagi orang atau mesin untuk menjalankan proses selanjutnya. Misalnya proses yang terhenti akibat masih menunggu pengiriman material, menunggu suatu informasi/keputusan, dan segala jenis menunggu untuk alasan apapun. Jadi intinya adalah tidak boleh ada orang atau mesin yang menganggur.

Waiting time dapat disebabkan oleh:

  • keterlambatan kedatangan material
  • mesin yang rusak sehingga menunggu perbaikan maupun suku cadang untuk mesin yang belum tersedia
  • banyaknya jumlah pekerja yang berbanding terbalik dengan jumlah order yang datang (order terlalu sedikit)
  • jalur kerja yang tidak seimbang

Tindakan yang dapat dilakukan untuk menghilangkan waktu tunggu diantaranya adalah:

  • Perhitungan waktu order yang tepat, sehingga dapat segera ditindaklanjuti oleh supplier
  • Penyesuaian jumlah karyawan dengan jumlah order yang datang
  • Perlu adanya pelatihan terhadap karyawan
  • Penjadwalan shift kerja yang tepat
  • Maintenance mesin secara rutin dan tepat.

Setelah mengenali adanya pemborosan jenis ini, maka perusahaan kemudian dapat menyusun langkah guna meminimalkan terjadinya pemborosan waktu menunggu.

 

DAFTAR REFERENSI

 

Abdullah, Fawaz, Lean Manufacturing Tools and Techniques In The Process Industry With the Focus on Steel, Dissertation, University of Pittsburgh, 2003.

 

Akinlawon, Akin, Thingking Of Lean Manufacturing System.

 

Becker, Ronald, Lean Manufacturing And The Toyota Production System.

 

Fanani, Zaenal,dkk., Implementasi lean manufacturing untuk peningkatan produktivitas (studi kasus pada pt. ekamas fortuna malang), Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi XIII, Program Studi MMT-ITS, Surabaya, 5 pebruari 2011.

 

Fitriyah, Ni’matul., Peningkatan mutu produk kain grei pada departemen weaving iii PT. Dan liris Sukoharjo dengan menggunakan pendekatanLean six sigma, Skripsi, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2012.

 

Jahja, Kristianto, 5R, Productivity & Quality Management Consultants, Jakarta Pusat, 1995.

 

Jeffrey K. Liker, The Toyota Way: 14 Management Principles from theWorld's Greatest Manufacturer, McGraw-Hill © 2004.

 

Monden, Yasuhiro, Sistem Produksi Toyota, Seri Manajemen Operasi No.8, Edisi Indonesia , Cetakan pertama, PPM, Jakarta, 1995.

Share:

Postingan Terkait:

Mengenal Waste Yang Ketujuh, Defect

Dalam seri tulisan ” The Seven Waste ” yang kedelapan ini, kita akan berfokus untuk membahas waste yang ketujuh, yaitu Cacat Produksi ( defect ). Defect dimaknai sebagai produk yang…

Mengenal Waste Yang Keenam, Excess Motion

Dalam seri tulisan ” The Seven Waste ” yang ketujuh ini, kita akan berfokus untuk membahas waste yang keenam, yaitu Gerakan berlebih/tidak diperlukan ( Excess motion ). Yang dimaksud dengan…

Mengawinkan Budaya dan Teknologi dalam Industri Kreatif

Di Indonesia, bergulirnya ekonomi kreatif menjadi model baru dalam pengelolaan ekonomi baru dimulai pada tahun 1990-an. Aktivitas ekonomi kreatif ditandai dengan serangkaian kegiatan produksi dan distribusi barang/jasa yang berkembang melalui…

Mengenal Waste Yang Kelima, Excess Inventory

Dalam seri tulisan ” The Seven Waste ” yang keenam ini, kita akan berfokus untuk membahas waste yang kelima, yaitu persediaan berlebih ( excess inventory ). Pemborosan jenis ini hampir…

Kirim Komentar

Setiap komentar akan ditinjau dahulu.