kemenperin

Gaji UMR, Beli Motor Baru atau Bekas?

Gaji UMR, Beli Motor Baru atau Bekas?

Godaan yang sering dialami oleh para karyawan, entah itu karyawan toko, pabrik, atau apapun adalah brosur sepeda motor baru dengan DP yang teramat murah, bahkan terkadang DP NOL rupiah. Kenyataan yang sering saya jumpai di lapangan adalah, banyak karyawan, bahkan karyawan yang masih baru saja bekerja dengan gaji UMR, tergoda untuk membeli sepeda motor baru secara kredit, mengandalkan slip gaji dari tempatnya bekerja. Gaji UMR 1,9 juta, begitu mendapat brosur sepeda motor dengan cicilan 900 ribu per bulan dengan DP murah, langsung tertarik.

Saya kutip dari sebuah halaman web penjualan sepeda motor baru, sebuah sepeda motor seharga 21 jutaan, memiliki uang muka sebesar 3,7 juta dengan cicilan seharga 900 ribu untuk tenor 35 bulan. Setelah kita hitung, ternyata dalam waktu 35 bulan, kita secara total telah mengeluarkan uang sebanyak 35,2 juta rupiah! Artinya, kita membeli sesuatu yang harga aslinya hanya 21 juta dengan harga 35,2 juta. Dalama waktu 35 bulan, kita mengalami kerugian sebesar 14,2 juta, atau sekitar 405 ribu per bulannya. Nah, lalu setelah sepeda motor tersebut kita gunakan selama 3 tahun, kemungkinan besar kita akan mengalami kebosanan, terlebih begitu kita kemudian mendapatkan brosur sepeda motor keluaran terbaru lagi, biasanya kita akan mudah tergoda untuk segera mengganti motor. Kita jual lah motor lama yang baru kita gunakan selama 3 tahun tersebut, untuk sebuah motor seharga 21 juta yang telah terpakai 3 tahun, menurut survey saya, motor bekas itu berada di level harga sekitar 12-13 juta rupiah. Artinya apa? Kerugian kita bertambah lagi, karena kita membayar lunar sepeda motor sebanyak 35,2 juta untuk sebuah motor yang ketika telah resmi menjadi milik kita hanyalag berharga 12 juta. Kita telah rugi sebesar 23,2 juta dalam waktu 35 bulan, atau sekitar 662 ribu dalam setiap bulannya. Sayang bukan? Gaji “hanya” 1,9 juta, namun terbuang percuma setiap bulannya sebanyak 662 ribu hanya untuk penyusutan nilai motor, belum lagi cicilan bulanan yang kita keluarkan sebesar 900 ribu, jadi total kita kehilangan 1,562 juta setiap bulan, hanya untuk urusan sepeda motor baru. Tersisa “hanya” sekitar 350 ribu rupiah untuk biaya hidup kita sehari-hari. Apakah cukup? Tentu tidak.

Lalu bagaimana solusinya jika kita tidak ingin mengalami kerugian seperti saya ceritakan diatas? Mudah, uang 3,7 juta yang sedianya kita gunakan untuk membayar uang muka motor baru, cukup kita carikan sebuah motor bekas yang seharga itu, atau kita tambah sedikit. Apa ada motor seharga itu? Ada dong, banyak. Dan toh fungsinya sama, hanya sebagai alat transportasi untuk kita. Bagaimana dengan perawatan motor bekas tersebut? Murah, lebih murah ketimbang merawat motor baru, buktikan. Nah, setelah membeli motor bekas secara lunas, maka kita tidak perlu lagi pusing memikirkan cicilan bulanan plus penurunan harga motor kita. Jadi, kita terima gaji 1,9 juta secara penuh, sehingga dapat kita gunakan untuk berbagai keperluan lain yang sifatnya lebih urgent, menabung untuk membeli rumah/tanah, menabung untuk modal usaha, membeli kebutuhan pokok untuk keluarga, dsb. Demikian, semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca sekalian, semoga kita lebih bijak lagi dalam membelanjakan uang kita, tidak sekedar menuruti gengsi, namun harus bisa membedakan mana yang benar-benar merupakan kebutuhan dan mana yang hanya sekedar keinginan.

 

Daftar Pustaka

https://www.yamahamotor.co.id/harga-motor-yamaha. Diakses pada 21 Juni 2020.

Label

Ekonomi

Fasilitas komentar tidak disertakan.

Zona Integritas

Zona Integritas BDI Yogyakarta
© 2021 BDI Yogyakarta Kementerian Perindustrian