kemenperin

Gaji Sama, Kesejahteraan Beda

Gaji Sama, Kesejahteraan Beda

Secara tidak langsung kita sering memperhatikan di sekeliling, banyak karyawan, banyak anggota TNI/Polri, atau PNS, yang golongannya sama, atau gajinya kuranglebih sama, namun sepertinya berbeda dalam hal kesejahteraan. Kira-kira, apa penyebabnya? Jawabannya tentu ada beberapa faktor penyebab, dan saya disini hanya akan mengulas mengenai manajemen gaya hidup. Manajemen gaya hidup? Nampaknya sebuah kosakata baru. Ya, dengan gaji dan pendapatan yang sama, ada orang yang lebih memilih bergaya hidup mewah (sebut saja “si mewah”), sementara di sisi lain ada orang yang lebih memilih bergaya hidup sederhana (kita sebut “si sederhana”).

Mari coba kita gambarkan perbedaan pola hidup antara si mewah dan si sederhana. Pendapatan 2 orang ini sama-sama 7 juta per bulan, sama-sama belum punya rumah, sama-sama masih lajang, sama-sama pendatang di kota Yogyakarta misalnya. Pendapatan 7 juta sebulan si mewah akan dibelanjakan untuk berbagai keperluan, membayar kamar kos dengan AC dan kamar mandi dalam seharga 1,2 juta, makan sehari 75 ribu dikali 30 hari dalam sebulan 2,25 juta. Jajan, ngopi di café mahal, dsb dalam sebulan taruhlah habis 1 juta, bensin sebulan 300 ribu. Rokok sehari sebungkus 25 ribu, 750 ribu sebulan. Total 5,5 juta. Masih ada sisa 1,5 juta, si mewah merasa cukup untuk mengangsur sebuah motor kelas menengah, dengan cicilan 1,5 juta selama 3 tahun. Pas, uangnya habis setiap bulannya. Dia tidak berpikir untuk menabung atau mencicil sebuah rumah sederhana untuk kehidupannya kelak setelah dia menikah. Baginya, gajinya tiap bulan pas habis untuk hidupnya di Jogja. Apa betul pas habis begitu?

Mari kita lihat kehidupan si sederhana. Si sederhana, dengan gaji yang 7 juta, sama, dia akan membelanjakannya untuk berbagai keperluan. Membayar kamar kosnya yang tanpa AC dan tanpa kamar mandi dalam, cukup 500 ribu. Dia berpikir, tak perlu memiliki kos yang ada kamar mandinya di dalam, toh hidup tidak selamanya urusan toilet bukan? Makan, dia akan mencari warung-warung murah, yang sekelas 10 ribuan saja, atau bahkan jika perlu yang 5 ribuan, nasi kucing, hehe… baginya, 25 ribu lebih dari cukup untuk makan dalam satu hari, atau bolehlah 30 ribu. 900 ribu yang dia belanjakan dalam sebulan untuk makan. Jajan plus ngopi-ngopi cukup di warkop pinggir jalan, 300 ribu lebih dari cukup dalam sebulan. Dia tidak perlu merokok, karena baginya merokok hanya membakar uang saja, juga tidak baik bagi kesehatan, kata dokter. Bensin sama, 300 ribu sebulan. Total pengeluaran si sederhana, hanya 2 juta! Dia punya saving sebanyak 5 juta setiap bulannya! Dengan saving sebanyak itu, dia tidak pernah berpikir untuk membeli motor baru, cukuplah baginya motor lama yang selama ini ia gunakan sehari-hari, toh baginya sama saja fungsinya, hanya sebagai alat transportasi saja, bukan alat untuk bergaya atau pamer status sosial bukan? Lalu apa yang ia lakukan dengan 5 juta per bulannya? Dia pergi ke sebuah pengembang perumahan, lalu melengkapi semua persyaratannya, kemudian ia pergi ke sebuah bank syariah. Dengan akad KPR syariah, dia membeli sebuah rumah sederhana yang langsung bisa dia tempati, lalu mencicilnya selama 10 tahun. Otomatis, semenjak dia menempati rumah barunya, maka pengeluaran untuk membayar kamar kosnya tiap bulan berkurang, saving pun bertambah 500 ribu!

Perhatikan, dalam waktu 10 tahun, si sederhana telah resmi memiliki sebuah rumah, dan sudah lunas, sementara apa yang didapat oleh si mewah? Tidak ada. Uangnya habis untuk berfoya-foya, menikmati hidupnya yang terkesan mewah, sementara setiap tahun harga motor baru yang dicicilnya semakin menurun. Setelah lunas cicilan motor dalam 3 tahun, maka si mewah akan menjual motor tersebut, dan berlanjut berganti motor keluaran baru lagi, demikian seterusnya berulang. Di akhir tahun ke-10, rumah milik si sederhana yang 10 tahun lalu dibelinya seharga 400an juta, sudah naik seharga lebih dari 1 milyar. Sementara apa yang dibeli oleh si mewah dengan gaya hidupnya? Hanyalah sebuah kesenangan dan kebahagiaan semu, pengakuan dari orang lain bahwa dia seorang “the have”, namun kesulitan melandanya di kemudian hari. Belum lagi dia berpikir untuk menikah, memiliki anak, dsb. Sementara, si sederhana telah “selamat” hidupnya, dia selamat berkat kesederhanaan dan kehati-hatiannya dalam mengatur gaya hidupnya. Ibarat peribahasa, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Hidup sederhana dahulu, namun bahagia di kemudian. Sekian.

 

Daftar Pustaka

https://www.idekredit.com/tabel-angsuran-mandiri-syariah/. Diakses pada 21 Maret 2020.

Label

Ekonomi

Fasilitas komentar tidak disertakan.

Zona Integritas

Zona Integritas BDI Yogyakarta
© 2021 BDI Yogyakarta Kementerian Perindustrian