RI Tawarkan Hilirisasi Industri Agro ke Eropa

RI Tawarkan Hilirisasi Industri Agro ke Eropa

Pemerintah berharap para investor Uni Eropa bisa memanfaatkan program hilirisasi industri agro yang tengah disiapkan Indonesia. Selama ini investor Eropa sudah memiliki merek yang kuat sehingga cocok untuk pengembangan produk hilir.

"Januari (2011) kita mengeluarkan regulasi produk agriculture terkait hilirisasi. Investasi Eropa kita harapkan, mereka ada branding. Mereka bisa joint di sini dengan lokal, bahan mentah dari kita. Jadi made in Indonesia," kata Menteri Perindustrian MS. Hidayat di Hotel Mid Plaza, Jakarta, Senin (29/11/2010).

Hidayat mencontohkan produk hilirisasi di sawit mencapai 18 produk yang bisa dikembangkan mulai dari makanan sampai kebutuhan rumah tangga seperti sabun. Selama ini, industri semacam itu memiliki daya serap yang tinggi terhadap tenaga kerja.

"Kita akan membuat persentase processing meningkat sehingga downstream tumbuh. Ini berarti akan ada tenaga kerja baru," katanya.

Di tempat yang sama Kepala BKPM Gita Wirjawan mengatakan minat para investor Uni Eropa cukup tinggi ke Indonesia. Misalnya pada tahun 2009 lalu porsi investasi Uni Eropa ke Indonesia dari total investasi mencapai 17-18%, bahkan tahun 2010 ini menunjukan peningkatan.

"Investasi Eropa sekitar 17-18% itu tahun lalu, investasi nanti akan meningkat dari angka itu. Saya tak tahu berapa persen, itu mengarah pada sektor hilir yang lebih pada padat karya dibandingkan dengan modal saja," katanya.

Seperti diketahui Indonesia dan Uni Eropa menggelar forum dialog European Union-Indonesia Business Dialog (EIBD). EIBD digelar pada 28-30 November 2010 di MidPlaza Jakarta.

Dalam forum dialog ini akan dilakukan diskusi terhadap permasalahan-permasalahan kedua pihak di bidang investasi dan perdagangan yang akan dicarikan solusinya. Selain itu, forum ini bisa menjadi sarana peningkatan investasi dan perdagangan kedua negara.

Adapun beberapa sektor yang akan dibahas antara lain ada 9 bidang bidang yaitu sektor medis dan farmasi, sektor tekstil, pakaian dan alas kaki, sektor infrastruktur, sektor otomotif dan mesin, sektor makanan-minuman, lintas sektor infrastruktur dan jasa, lintas sektor hukum dan regulasi, lintas sektor isu-isu mendesak untuk pertumbuhan, dan fasilitas perdagangan.

"Ini dialog kedua, tahun lalu belum memenuhi hasil konkret. Diantaranya soal menyamakan standar nerek, mereka pakai standar yang tinggi," tambah Hidayat.

Share:

Postingan Terkait:

Kirim Komentar

Fasilitas komentar tidak disertakan.