kemenperin

Gara-gara AC-FTA Produsen Lokal Ngaku Untung Tipis

Gara-gara AC-FTA Produsen Lokal Ngaku Untung Tipis

Setahun berjalan penerapan ASEAN China-Free Trade Agreement (AC-FTA) untuk produk-produk manufaktur berbuah keluhan pengusaha tekstil di dalam negeri. Para pengusaha tekstil mengaku mengalami untung tipis karena harus bersaing dengan produk-produk tekstil dan garmen asal China yang terkenal murah meriah.

"Margin makin tipis, karena mereka (pengusaha China) dikasih insentif oleh pemerintahnya," kata Benny Soetrisno salah satu pengusaha tekstil yang juga mantan Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (30/11/2010).

Benny menuturkan keputusan AC-FTA menjadi sebuah 'kecelakaan' bagi pemerintah karena sejak awal tak melibatkan pelaku usaha. Selama ini pemerintah selalu beralasan sudah melibatkan banyak stakeholder, namun ia beranggapan justru pihak yang diundang tak mengerti kebutuhan pelaku usaha.

"AC-FTA ini sebuah kecelakaan," katanya.

Sementara itu Ketua Umum API Ade Sudradjat mengatakan AC-FTA sebagai perdagangan bebas cenderung mengadu harga dan efisiensi. Sehingga yang dikorbankan adalah margin para produsen di dalam negeri yang tak bisa berdaya saing.

"Misalnya biasanya dapet margin 10%, sekarang ini 7%, ini untuk pasar dalam negeri," kata Ade.

Meskipin Ade mengakui dengan adanya AC-FTA ini menyebabkan volume perdagangan Indonesia dengan China sepanjang Januari-September terus naik. Khusus untuk sektor tekstil sudah naik dari US$ 1,1 miliar menjadi US$ 1,3 miliar atau naik 20%.

"Porsi untuk perdagangan kain (tekstil) kedua negara posisi Januari-September US$ 800 juta, mereka mendominasi 80%," katanya.

Kalah bersaingnya Indonesia di sektor kain tekstil karena China banyak memakai mesin-mesin baru yang efisien sementara Indonesia kebalikannya. Namun untuk sektor serat dan benang justru Indonesia relatif bisa bersaing, volume perdagangan kedua negara di sektor benang dan serat 60% lebih dikuasai Indonesia.

"Sekarang ini serat dan benang kita mendominasi di atas 50% dari impor. Dua industri ini kita berdaya saing di sana," jelasnya.

Meski berdaya saing di benang dan serat, sektor ini justru volume perdagangannya relatif masih kecil. Sementara sektor kain, di mana Indonesia kalah bersaing justru mendominasi perdagangan kedua negara di sektor tekstil.

Fasilitas komentar tidak disertakan.

Zona Integritas

Zona Integritas BDI Yogyakarta
© 2021 BDI Yogyakarta Kementerian Perindustrian