kemenperin

Banyak Pekerja Mengungsi, Industri Skala Ekspor di Sleman Terhambat

Banyak Pekerja Mengungsi, Industri Skala Ekspor di Sleman Terhambat

Geliat Gunung Merapi yang meningkat selama beberapa pekan terakhir membuat jumlah pengungsi terus bertambah. Ini ikut mempengaruhi sejumlah industri berskala ekspor di Sleman karena banyak pekerjanya ikut mengungsi.

"Ada 72 perusahaan industri maupun produsen produk berorientasi ekspor di Sleman mengalami gangguan produksi," ujar Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Riyadi Ida Bagus.

Riyadi menambahkan, dari jumlah tersebut, 20 persen di antaranya berada di kawasan radius bahasa 20 km. Sebagian besar perusahaan berorientasi ekspor tersebut, lanjutnya, terpaksa harus menghentikan kegiatan produksinya untuk sementara waktu atau hanya menjalankan produksi selama setengah hari.

"Mesin produksi tidak mengalami kerusakan, tetapi banyak pekerja yang menjadi pengungsi sehingga mengganggu kegiatan produksi. Kami juga telah mengedarkan surat kepada pelaku industri untuk memberikan pemakluman kepada pekerja yang harus mengungsi akibat letusan Merapi," tuturnya.

Namun, meskipun proses produksi terganggu, hingga saat ini tidak ada pemutusan kontrak ekspor dari konsumen luar negeri terkait letusan Gunung Merapi.

"Produk-produk beriorientasi ekspor tersebut di antaranya adalah furnitur, kerajinan  kayu, industri sarung tangan kulit, dan tekstil. Produk non kerajinan yang juga terganggu adalah produksi minyak atsiri cengkeh," katanya.

Selain mengganggu kegiatan produksi, proses pengiriman produk juga tersendat dengan ditutupnya Bandara Adistjipto, sehingga pengiriman produk harus dialihkan ke Bandara Juanda Surabaya maupun Soekarno-Hatta Cengkareng.

"Hingga saat ini pengaruh erupsi Merapi belum berdampak signifikan terhadap volume dan nilai ekspor DIY. Saat ini kami tengah menginventarisasi kerugian yang  ditimbulkan akibat letusan Merapi terhadap neraca ekspor DIY," katanya.

Riyadi juga memaparkan nilai ekspor DIY periode Januari-Juli 2010, mencapai US$ 87,26 juta, meningkat sekitar US$ 22 juta dibandingkan periode sama pada 2009 yang sebesar US$ 65,32 juta.

"Tahun lalu, nilai ekspor DIY mengalami kontraksi sebesar 15 persen. Tahun ini, kami menargetkan ekspor DIY tumbuh sebesar 6 persen dibandingkan tahun lalu," tuntasnya.

Fasilitas komentar tidak disertakan.

Zona Integritas

Zona Integritas BDI Yogyakarta
© 2021 BDI Yogyakarta Kementerian Perindustrian