Membangun Partipasi Aktif Peserta Diklat Saat Proses Pembelajaran


MENINGKATKAN PARTISIPASI AKTIF PESERTA DIKLAT  SAAT PROSES PEMBELAJARAN

 

Oleh :

Panji Wishnumurti

(Widyaiswara Balai Diklat Industri Yogyakarta)

  

 

PENDAHULUAN

Seperti kita ketahui, proses pembelajaran diklat akan berjalan efektif apabila semua pihak yang terlibat menjalankan fungsinya masing-masing dengan baik. Widyaiswara mampu mengajar sesuai ekspektasi peserta, peserta diklat mampu berperan aktif dan memahami tujuan pembelajaran, serta tersedianya panitia yang responsif untuk memenuhi kebutuhan peserta dan widyaiswara. Kalau selama proses pembelajaran berlangsung peserta mau mengikuti dengan baik dan berpartisipasi aktif, tentunya tidak menjadi masalah. Namun, apa yang salah ketika peserta diklat terlihat pasif saat proses pembelajaran berlangsung? Kemudian, apa yang bisa dilakukan dilakukan widyaiswara ketika hal seperti ini terjadi?

 

STRATEGI MENINGKATKAN PERAN AKTIF PESERTA DIKLAT

Ketika peserta diklat tidak fokus dan aktif selama proses pembelajaran, bisa jadi penyebabnya ada dua. Pertama karena faktor internal peserta dan yang kedua karena faktor eksternal. Faktor internal ini yang biasanya menjadi penyebab yang paling berpengaruh, antara lain disebabkan oleh :

  1. Kurang konsentrasi dan tidak fokus, kemungkinan karena peserta memikirkan hal lain diluar diklat,
  2. Tidak terbiasa berada di dalam kelas, bisa jadi karena latar belakang peserta yang sehari-hari bekerja di bengkel atau lapangan,
  3. Tidak semangat karena menganggap materi diklat tidak sesuai dengan keinginannya,
  4. Atau faktor-faktor lain yang berkaitan dengan motivasi diri pribadi peserta diklat.

 

Sedangkan faktor eksternal bisa disebabkan oleh :

  1. Mengikuti diklat bukan karena keinginan sendiri, bisa jadi karena hanya ditugaskan atau “dipaksa” ikut tanpa tahu tujuan diklat yang sebenarnya,
  2. Kelas atau lingkungan diklat yang tidak kondusif, misalnya kelas yang sempit, bising, kurang terang atau suhu ruangan yang terlalu panas atau terlalu dingin,
  3. Sistem audio visual dan/atau multimedia yang tidak baik, misalnya sound system tidak terdengar dengan jelas atau LCD Projector yang cahayanya redup,
  4. Panitia penyelenggara kurang tanggap dalam melayani kebutuhan peserta diklat,
  5. Widyaiswara yang kurang kompeten dalam menyampaikan materi,
  6. Atau faktor-faktor lain yang sumbernya berasal dari luar peserta diklat.

 

Seorang widyaiswara yang kreatif dan profesional tentunya tidak akan “mati kutu” atau kehabisan akal untuk meningkatkan partisipasi aktif peserta diklat saat proses pembelajaran berlangsung. Widyaiswara sebaiknya memang harus responsif ketika melihat kondisi kelas kurang kondusif dan memiliki banyak pilihan “amunisi” saat berada di kelas, mengingat latar belakang dan motivasi peserta yang berbeda-beda satu sama lain. Banyak alternatif tindakan yang bisa dilakukan widyaiswara dalam perannya sebagai fasilitator untuk tetap memandu kelas dengan baik. Berdasar pengalaman penulis (yang baru beberapa kali menjadi fasilitator diklat), ada beberapa tips dan trik yang dapat menjadi solusi untuk memancing partisipasi aktif peserta diklat :

  1. Menggunakan energizer dan permainan ringan namun berbobot

Energizer bisa digunakan pada awal sesi di pagi hari atau disaat peserta mulai merasa bosan dan mengantuk, misalnya dengan melakukan senam ringan atau meneriakkan yel-yel bersama peserta. Sedangkan permainan digunakan untuk memberikan contoh nyata dari sebuah teori yang disampaikan, sehingga peserta “bergerak” dan belajar dengan menjalani pengalaman langsung. Namun widyaiswara harus menyampaikan tujuan dan implikasi setelah permainan berakhir.

  1. Tidak langsung “to-the-point”

     Saat memulai kelas, widyaiswara tentunya akan memperkenalkan diri. Setelah memperkenalkan diri, sebaiknya widyaiswara tidak langsung menuju ke materi, tetapi melakukan apersepsi terlebih dahulu untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta tentang materi yang akan disampaikan. Widyaiswara juga dapat menyampaikan mengapa materi tersebut penting bagi peserta, agar peserta “merasa memiliki” terhadap materi tersebut.

  1. Beri tantangan yang positif kepada peserta

Widyaiswara dapat menyampaikan bahwa siapa peserta yang aktif selama pembelajaran akan menjadi nilai tambah pada penilaian akhir individu. Strategi ini mungkin tidak selalu berhasil, namun beberapa kali penulis mempraktikkannya berhasil mendatangkan perhatian lebih dari peserta.

  1. Jangan terlalu teoritis, tetapi memperbanyak contoh

Perlu diingat bahwa diklat bukan seperti kegiatan perkuliahan yang diikuti mahasiswa. Peserta diklat pasti sudah memiliki pengalaman, sehingga tugas widyaiswara adalah menggali pengalaman dan kegiatan yang berhubungan dengan lingkup pekerjaan peserta sehari-hari sebagai bekal untuk memperkaya contoh dari materi yang disampaikan.

  1. Gunakan bahasa sederhana yang mudah dipahami

Mengingat kualifikasi peserta yang berbeda-beda, sebaiknya widyaiswara menghindari penggunaan istilah-istilah bahasa asing yang rumit atau memberikan padanan kata yang lebih umum digunakan.

  1. Memutar video singkat yang relevan

Bagi peserta diklat yang lebih suka melihat daripada membaca atau mendengar, dengan kata lain aspek visualnya dominan, maka widyaiswara dapat menyisipkan video-video singkat yang relevan dengan materi yang sedang disampaikan.

  1. Tidak terpaku di depan kelas

Variasi gerakan dan bahasa tubuh widyaiswara ketika sedang memberikan materi tentu akan terlihat menarik di hadapan peserta. Bergerak mendekati peserta menjadi salah satu cara untuk menjalin kedekatan sehingga peserta merasa nyaman selama pembelajaran berlangsung. Peserta yang mengantuk atau tidak fokus tentu akan merasa diperhatikan ketika didekati oleh widyaiswara.

  1. Menjadi “sahabat” bagi peserta

Pendekatan khusus psikologis terhadap peserta yang terlihat pasif perlu dilakukan. Misalnya dengan mendengarkan ceritanya atau dengan memahami karakternya. Menghadapi model peserta seperti ini, sebaiknya jangan “dilawan” namun “diikuti” dengan tetap fokus pada pembelajaran.

  1. Memberikan studi kasus dengan kelompok

Diskusi kelompok untuk membahas suatu permasalahan selain dapat memancing keaktifan peserta dalam skala kelas yang lebih kecil, juga menjadi wahana untuk mengenal diri pribadi antar peserta. Untuk memudahkan pembuatan kelompok, dapat menggunakan kelas dengan bentuk “island”. Model ini memudahkan ketika peserta akan melakukan diskusi kelompok karena meja sudah dikelompokkan menyesuaikan jumlah peserta.

  1. Sisipkan humor sederhana namun bermakna

Memancing tawa peserta yang terlihat tegang atau bosan diperlukan agar suasana kelas menjadi cair. Tidak harus dipaksakan melucu, namun membangun suasana yang santai dengan cara yang sederhana akan membuat kelas menjadi hidup.

 

PENUTUP

Penerapan beberapa strategi diatas tentunya menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Peran widyaiswara sebagai fasilitator tentunya amat vital dalam mendukung proses pembelajaran. Variasi yang dilakukan selama pembelajaran berlangsung tentunya membuat kelas lebih dinamis, dibandingkan bila hanya menyampaikan materi dengan satu arah saja. Proses pembelajaran dapat dikatakan berhasil apabila semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan diklat merasa puas, secara khusus bagi peserta diklat yang selama pembelajaran berlangsung mampu berperan aktif, sehingga akan lebih mudah dalam memahami tujuan pembelajaran dan mampu menerapkannya setelah diklat selesai. Wallahualam.

Kirim Komentar

Fasilitas komentar tidak disertakan.