Konsumi dan Produksi Baja Indonesia


Berdasarkan laporan World Steel Association dalam ”World Steel Short Range Outlook for 2011 and 2012” dijelaskan bahwa industri baja dunia pada tahun 2011 dan 2012 akan mengalami peningkatan permintaan sebesar 5,9% menjadi 1.359 juta metrik ton melanjutkan pertumbuhan tahun sebelumnya sebesar 1.197 juta metric ton(13,2%).

Pada 2012, permintaan baja diperkirakan Itu akan tumbuh lebih lanjut sebesar 6,0% untuk mencapai rekor baru 1.441 juta metrik ton. Permintaan baja pada tahun 2012 diproyeksikan akan diuasai oleh negara berkembang dengan market share sebesar 72%, sedangkan negara maju akan menyumbang 14% dari penggunaan baja dunia.

Konsumsi Baja Dalam Negeri

Sampai saat ini konsumsi baja nasional kita masih sangat rendah, yaitu sekitar 37,3 kg perkapita per tahun, masih di bawah konsumsi negara-negara di Asia Tenggara. Untuk bisa menjadi negara maju, maka Indonesia harus memiliki konsumsi baja per kapita per tahun 500 Kg dengan tingkat konsumsi baja perkapita per tahun yang masih minim maka Indonesia setidaknya masih memerlukan kapasitas produksi baja 100 juta ton untuk menopang konsumsi 500 Kg pertahun per kapita.

Sejalan dengan perkembangan perekonomian nasional, permintaan terhadap baja terus meningkat. Sektor kostruksi merupakan sektor penyumbang terbesar terhadap konsumsi baja nasional. Konstribusi sektor konstruksi sebesar 80% terhadap konsumsi baja nasional.

Pembangunan jaringan pipa memiliki kontribusi sebesar 8%, sektor manufaktur, industri alat-alat mesin dan industri otomotif memiliki kontribusi masing-masing sebesar 3%, 2% dan 1%,sedangkan 6% sisanya merupakan kebutuhan industri lain. Pertumbuhan ekonomi nasional sangat mempengaruhi tingkat konsumsi baja nasional. Terutama pada pertumbuhan sektor konstruksi, industri manufaktur dan otomotif. Pertumbuhan pada sektor-sektor industri ini akan meningkatkan permintaan baja nasional.

Kedepan, beberapa sektor seperti manufaktur dan konstruksi, akan memacu permintaan seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan 6,4%. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian yang diolah dari Badan Pusat Statistik, kedua sektor itu diperkirakan tumbuh masih-masing 4,4% dan 7,3% pada tahun 2011. Semakin meningkatnya penjualan otomotif nasional turut mendorong peningkatan penggunaan baja.Sehingga diperkirakan permintaan baja akan tumbuh sekitar 15% atau total konsumsi baja nasional adalah sebesar 9 juta metriktonpada tahun 2011.

Pada tahun 2020,konsumsi baja nasional diperkirakan lebih dari 17,5juta ton. Proyeksi tersebut dilakukan berdasarkan asumsi tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata 5,8 persen per tahun dan pertumbuhan kebutuhan baja rata-rata pertahun sebesar 8,2%. Dengan jumlah total konsumsi baja nasional pada tahun 2010 sebesar 7,48 juta ton, dan pertumbuhan rata-rata konsumsi baja pertahun sebesar 8,2%, maka dapat diproyeksikan kebutuhan baja pada tahun 2015 adalah 11,8 juta ton dan 17,5 juta ton pada tahun 2020. Proyeksi itu juga dengan mempertimbangkan produk domestic bruto (PDB) Indonesia naik menjadi US$11.232 pada tahun 2020.

Produksi Baja dalam Negeri

Sampai saat ini pasar baja domestik masih mengalami defisit dimana terjadi over demand baik di sisi hulu, intermediate maupun hilir. Besarnya pasar industri baja yang belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh produsen domestik membuka celah masuknya baja impor.

Tahun 2010, konsumsi baja dalam negeri mencapai 7,48 juta ton, sementara produksi baja nasional hanya 5,23 juta ton. Pada tahun 2011 diperkirakan konsumsi baja nasional naik menjadi 8,6 juta ton dengan kapasitas produksi nasional sebesar 6,01 juta ton. Untuk menutupi kebutuhan tersebut, harus mengimpor sebesar 2,25 juta ton pada tahun 2010 dan 2,59 juta ton pada tahun 2011.

Produksi baja dalam negeri seperti PT Krakatau Steel Tbk mencapai 2,75 juta ton, sisanya disumbang dari perusahaan baja milik swasta sehingga totalnya 4-5 juta ton. Sedangkan permintaan baja setiap tahunnya terus bergerak naik.

Untuk kebutuhan finish product domestic diperlukan baja mentah, industri baja mentah dalam negeri hanya mampu memenuhi 70% kebutuhan baja mentah, Sisanya 30% masih tetap diimpor dari luarnegeri. Pada tahun 2009, kebutuhan baja mentah dalam negeri adalah 5,5 juta ton, sedangkan produksi baja mentah hanya 3,5 juta ton. Untuk kebutuhan baja mentah tersebut harus mengimpor 3,5 juta ton baja mentah untuk memenuhi kebutuhan konsumsi baja dalam negeri dan untuk kebutuhan baja semi finished dan finished product untuk diekspor kembali.

Pada industri hulu, untuk memenuhi kebutuhan baja mentah, diperlukan industri yang memproduksi bijih besi dan besi bekas sebagai bahan baku. Produksi bijih besi di dalam negeri masih sangat rendah. Pada tahun 2008 dari total produksi baja mentah sebesar 3,915 juta ton baja metah, produksi bijih besi dalam negeri hanya mampu memenuhi 100 ribu ton pertahun. Begitu juga dengan bahan baku dari besi bekas, Indonesia masih mengimpor dari luar negeri sehingga harganya sangat dipengaruhi oleh pasar.

Kirim Komentar

Fasilitas komentar tidak disertakan.