Penyiapan SDM Industri Berbasis Kompetensi di Bidang Kerajinan Logam dan Plastik

Penyiapan SDM Industri Berbasis Kompetensi di Bidang Kerajinan Logam dan Plastik

Sesuai arahan dari Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Industri untuk mereposisi semua unit pendidikan di bawah Kementerian Perindustrian, BDI Regional IV Yogyakarta-pun tidak tinggal diam dan segera merealisasikan tantangan tersebut. Sesuai maknanya, reposisi dapat berarti penempatan kembali ke posisi semula; penataan kembali posisi yg ada; penempatan ke posisi yg berbeda atau baru. Oleh sebab itu, arahan Kapusdiklat adalah menempatkan BDI ke posisi yang sedikit berbeda dari sebelumnya. Melalui program reposisi ini, BDI diharapkan mampu berperan nyata bagi masyarakat industri dengan porsi yang lebih besar dari sebelumnya. Program ini ditargetkan dapat berjalan pada tahun 2013, sehingga pada tahun ini sudah dimulai dengan persiapan segala sumber daya yang diperlukan beserta pemantapan program untuk mencapainya. Reposisi ini berlandaskan pada visi yang telah dicanangkan oleh Pusdiklat Industri yaitu : MENJADI LEMBAGA PENDIDIDIKAN DAN PELATIHAN DI BIDANG INDUSTRI YANG UNGGUL, BERBASIS KOMPENTENSI DAN BERDAYA SAING PADA TAHUN 2025” dengan salah satu misinya yaitu “Membangun SDM Industri yang kompeten dan profesional”.

 

Sebagai program awal, pada tanggal 20 April 2012 yang lalu BDI Regional IV Yogyakarta mengadakan Diskusi Ilmiah “Pengembangan Industri Kerajinan Logam dan Plastik bagi IKM”. Diskusi ini didasari pada kenyataan bahwa IKM harus lebih mendapat perhatian dan porsi yang lebih besar agar lebih cepat berkembang. Acara ini dihadiri oleh perwakilan dari Balai Besar Kerajinan dan Batik, Balai Besar Kulit Karet dan Plastik, UPT Logam Disperindagkoptan Kota Yogyakarta, Direktorat Jenderal Basis Industri Manufaktur Kemenperin serta Asosiasi Industri Aromatik, Olefin & Plastik Indonesia (Inaplas).

 

Fajar Budiyono, Sekjen Inaplas, mengatakan bahwa untuk mengembangkan industri logam dan plastik yang maju dan berkembang, diperlukan adanya suatu working group untuk pengembangan klaster industri, pembaruan data mengenai perkembangan pasar, pembaruan  aplikasi dan membahas masalah yang dihadapi antara pengusaha dari hulu sampai hilir. Saat ini yang diperlukan oleh SDM yang akan berkecimpung dalam dunia logam dan plastik adalah adanya kurikulum yang berbasis kompetensi untuk pelajaran tentang plastik maupun logam, harapannya ini dapat disiapkan oleh SMK yang konsentrasi program studinya di bidang tersebut. Ditambahkannya, saat ini peningkatan konsumsi plastik ini terjadi lantaran adanya permintaan dari industri makanan dan minuman yang terus menguat. Selain itu, peningkatan permintaan juga datang dari sektor otomotif yang berencana terus meningkatkan kapasitas produksi di tahun ini.

 

Permasalahan yang terjadi saat ini adalah bahwa ketika suatu instansi melatih IKM untuk menciptakan bisa melakukan inovasi produk, setelah kembali ke usahanya mereka tidak punya alat besar dan modern (atau masih menyewa), sehingga ilmu yang didapat selama mengikuti pelatihan belum dapat dimanfaatkan secara optimal, hal ini diungkapkan oleh Agus, Kepala UPT Logam. Selain itu masalah lain yang sering muncul adalah belum efisiennya proses produksi yang dilakukan. Belum lagi masalah yang terkait dengan kemasan dan pengujian produk jadi, yang notabene berhubungan langsung dengan kualitas yang belum sesuai standar. Hal ini berhubungan erat dengan pendidikan tentang komoditi di Indonesia masih sangat langka, itulah sebabnya industri hilir masih tersendat perkembangannya.

 

Dr. Gatot IS, mantan Dirjen Industri Kimia Depperin yang saat ini berkarir sebagai dosen sekaligus tokoh di bidang logam dan plastik menambahkan bahwa yang perlu dilakukan adalah menginventarisir jumlah pelaku usaha bidang logam dan plastik yang saat ini masih eksis, membangun sinergitas antara Balai Diklat dengan Balai Besar dan dengan sekolah/akademi (membuat kurikulum, penguatan soft skills), menyiapkan peralatan yang dibutuhkan dan menyiapkan posisi untuk menjadi public services yang mampu memberikan pelayanan prima. Sehingga harapannya adalah pelatihan yang akan diberikan berkualitas unggul dan dapat bermanfaat bagi peserta diklat. Program pelatihan ini nantinya diarahkan untuk melatih peserta yang sudah memiliki peralatan meskipun sederhana, dalam artian si pengusaha yang akan “menyekolahkan” karyawannya untuk mengikuti pelatihan, sehingga akan meminimalkan permasalahan yang mungkin timbul. Pelatihan ini juga berfungsi sebagai sosialisasi mengenai alih teknologi.

 

Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Basis Industri Manufaktur (BIM) saat ini memang sedang berfokus untuk mendorong tumbuhnya industri di bidang logam. BIM memprogramkan kegiatan lintas klaster, kolaborasi logam dengan kimia (inter-linkages) serta men-support dari sisi penguatan sarana dan prasarana pendukung yang berkaitan dengan penguatan SDM industri. Oleh karena itu BDI perlu menjalin kerjasama dengan banyak pihak dan harus segera menginventarisasi kebutuhan diklat sesuai kebutuhan pasar agar mampu berperan nyata dalam meningkatkan kompetensi SDM industri. Panggah Susanto, Dirjen Industri Manufaktur Kemenperin menegaskan, pemerintah akan terus mendorong industri plastik dalam negeri. Salah satu caranya adalah dengan pemberian fasilitas bea masuk ditanggung pemerintah (BMDTP). Selain itu, pemerintah juga mendorong berkembangnya industri petrokimia sebagai penopang utama industri plastik. Menurut Panggah, ada paradigma baru pengembangan industri petrokimia yaitu menciptakan sistem yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Misalnya melalui integrasi industri kilang minyak dan industri petrokimia seperti yang dilakukan negara maju dan China. "Kita ingin mendorong dari hulu sampai hilir," kata Panggah. Selain itu, pemerintah pun akan melakukan percepatan penerapan SNI wajib yang bisa meningkatkan daya saing dan perlindungan bagi industri lokal. Di antaranya adalah percepatan SNI wajib bagi lima produk sektor kimia hulu. Lalu ada 12 produk yang akan dipercepat SNI wajibnya dan empat peraturan teknis di sektor kimia hilir. Sedangkan sektor mainan akan dikenakan SNI wajib sebanyak 15 produk tahun ini (http://www.kemenperin.go.id/artikel/2924/Bisnis-Makanan-dan-Otomotif-Dongkrak-Bisnis-Industri-Plastik). 

 

Program selanjutnya setelah temu ilmiah ini adalah memagangkan Widyaiswara BDI untuk mengikuti pelatihan Teknik Pengecoran Logam di Politeknik Manufaktur Bandung sembari mempersiapkan tempat yang akan dijadikan lokasi workshop serta menginventarisir mesin/peralatan yang dibutuhkan. Melalui reposisi, BDI diharapkan mampu melatih dan meningkatkan skill (keterampilan) Sumber Daya Manusia di bidang kerajinan logam dan plastik, mengingat pangsa pasar yang masih luas untuk bisa digarap dan dikembangkan. Tidak hanya sebagai tempat pelatihan, BDI juga akan dijadikan sebagai unit produksi serta dijadikan sebagai Tempat Uji Kompetensi (TUK) sebagai program jangka menengahnya, sehingga pada akhirnya tujuan program reposisi untuk menjadikan SDM industri yang berbasis kompetensi dan spesialisasi dapat terwujud.

Kirim Komentar

Fasilitas komentar tidak disertakan.